AFIKRI
Menu Click to open Menus
Home » Hukum » Verstek Dalam Putusan Pengadilan Agama

Verstek Dalam Putusan Pengadilan Agama

(59 Views) Agustus 27, 2018 1:58 pm | Published by | No comment

Putusan Verstek-

Pengertian Verstek

Putusan verstek adalah menyatakan bahwa tergugat tidak hadir, meskipun ia menurut hukum acara harus datang.

Verstek ini hanya dapat dinyatakan, jikalau tergugat tidak hadir pada hari sidang pertama.

Berdasarkan   Pasal   126   HIR,   didalam   hal   kejadian   tersebut   diatas, Pengadilan  sebelum menjatuhkan sesuatu putusan (gugurnya gugatan ataupun verstek), dapat juga memanggil sekali lagi pihak yang tidak datang itu.

Ini bisa saja terjadi jika misalnya Hakim memandang perkaranya terlalu penting buat diputus begitu saja diluar persidangan baik digugurkan maupun verstek.

Ketentuan pasal ini sangat bijaksana terutama bagi pihak yang digugat, lebih-lebih jika rakyat kecil yang tidak berpengetahuan dan tempat tinggalnya jauh.

Mengenai pengertian verstek, sangat erat kaitannya dengan fungsi beracara di pengadilan.

Dan hal tersebut tidak terlepas dari penjatuhan putusan atas perkara yang disengketakan, yang memberi wewenang pada hakim menjatuhkan putusan tanpa hadirnya penggugat atau tergugat.

Dalam  hukum beracara mengenai verstek telah diatur dalam pasal 125-129 HIR dan pasal 149-153 RBg.

Dalam peraturan putusan verstek diartikan putusan yang dijatuhkan oleh majelis hakim tanpa hadirnya tergugat, ketidakhadirannya itu tanpa alasan yang  sah  meskipun  telah  dipanggil  secara resmi  dan  patut.

Praktik Acara di Pengadilan Agama

Dalam praktik acara di lingkungan Peradilan Agama terhadap putusan verstek ini masih ada perbedaan pendapat di kalangan praktisi hukum.

Sebagian mereka  mengatakan  bahwa  dalam  perkara  perceraian  apabila  tergugat  tidak hadir dalam sidang pertama dan kedua padahal sudah dipanggil secara resmi dan patut.

Maka terhadap perkara tersebut dapat diputus secara verstek tanpa dibuktikan terlebih dahulu.

Sebagian lagi mengatakan bahwa apabila tergugat telah dipanggil secara patut dan resmi dan ternyata  tergugat tidak hadir tanpa alasan  yang sah,

maka  perkara  tersebut  baru  boleh diputuskan  kalau  sudah diperiksa  dengan  teliti  dan  telah  terbukti  dalil  gugat  yang diajukan,  karena pembuktian dalam perkara itu mutlak diperlukan.

Pengadilan  agama  yang mempunyai kewenangan mengadili  perkara- perkara tertentu,  sebagai disebutkan dalam Penjelasan Umum alenia pertama, Pasal 2, Pasal 3A, Pasal 49, Pasal 50, dan Pasal 52 UU No. 3 Tahun 2006 adalah perkara tertentu  UU Nomor 3 Tahun 2006 yaitu:

Perkara Islam yang meliputi   bidang   perkawinan,   waris,   wasiat,   hibah,   wakaf,   zakat,   infaq, shadaqah,  ekonomi  syari’ah,  sengketa  hak milik yang timbul  akibat  adanya sengketa terhadap bidang yang menjadi kewenangan Pengadilan Agama.

Namun yang sampai sekarang ini perkara yang mendominasi jumlah perkara terbanyak  adalah perkara yang meliputi  bidang perkawinan khususnya perkara perceraian (cerai gugat dan cerai talak).

Sehubungan  dengan  hal  tersebut  para  praktisi  hukum di  Pengadilan Agama harus hati-hati dalam menjatuhkan putusan verstek dalam perkara perceraian.

Sebab   dalam   bidang   perceraian   banyak   aspek   yang   harus dipertimbangkan, rumit dan sangat kompleks.

Apabila tergugat telah dipanggil secara  resmi  dan  patut,  tetapi  tergugat  tidak  hadir  dan  tidak  mengirimkan wakilnya  dalam  sidang  yang  telah   ditetapkan.

Sebaiknya  Majelis  Hakim memanggil  kembali  tergugat  untuk  kedua  kalinya,  tidak  secara  langsung menjatuhkan putusan verstek meskipun gugatan penggugat bersandar pada hukum.

Tags:
Categorised in:

No comment for Verstek Dalam Putusan Pengadilan Agama

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *